Distribusi Benih dan Sosialisasi PM-AAS di Soppeng Berjalan Lancar, Petani Sambut Pertanian Modern
Soppeng – Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Sulawesi Selatan kembali melaksanakan kunjungan kedua ke lokasi kegiatan Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Kabupaten Soppeng. Kegiatan difokuskan pada distribusi benih sekaligus sosialisasi penerapan sistem pertanian modern kepada petani.
Kunjungan ini dilaksanakan di Kelurahan Apanang, Kecamatan Liliriaja, yang menjadi salah satu lokasi utama pengembangan PM-AAS dengan luas mencapai 100 hektare. Dalam kegiatan tersebut, tim memastikan bahwa bantuan benih padi telah diterima oleh kelompok tani dan didistribusikan kepada petani sesuai dengan luasan lahan masing-masing.
Sebanyak 7.500 kilogram benih disalurkan untuk kebutuhan tanam seluas 100 hektare, dengan alokasi 75 kilogram per hektare. Varietas yang digunakan antara lain Inpari 48 dan Inpari 32, serta sebagian benih hibrida untuk pengembangan pada luasan terbatas.
Kegiatan ini diawali dengan pembukaan oleh Koordinator BPP Kelurahan Apanang, Andi Nurlina, yang menyampaikan bahwa program ini merupakan upaya strategis pemerintah dalam meningkatkan produktivitas pertanian melalui pendekatan modern.
“Untuk tahap awal, bantuan yang diberikan berupa benih sebanyak 75 kilogram per hektare. Sementara bantuan lainnya masih menunggu konfirmasi lebih lanjut,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan tim penyuluh Kabupaten Soppeng menjelaskan bahwa lokasi kegiatan telah melalui proses seleksi dan survei lapangan yang ketat oleh tim penyuluh bersama Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Sulawesi Selatan.
Program PM-AAS sendiri sebelumnya telah diuji di Kabupaten Soppeng dengan hasil yang cukup menggembirakan, mencapai produktivitas hingga 10,4 ton per hektare. Tahun 2026 ini, program diperluas ke empat kabupaten di Sulawesi Selatan, yaitu Bone, Maros, Sidrap, dan Soppeng, masing-masing dengan luasan 100 hektare.
Penanggung jawab kegiatan, Basrum, SP., M.Si. menegaskan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada kekompakan dan kesungguhan petani serta dukungan penuh dari para penyuluh di semua tingkatan.
“Metode yang digunakan adalah sistem pertanian modern PM-AAS dengan salah satu cirinya adalah penggunaan jarak tanam yang rapat dan tidak jarak dalam barisan dengan sistem legowo 6:1. Diharapkan semua pihak dapat bekerja sama agar dapat memberikan hasil yang optimal,” jelasnya.
Selain itu, kegiatan ini juga membahas kebutuhan sarana produksi lainnya seperti pupuk dan sarana produksi lainnya.
Dalam sesi diskusi, petani menyampaikan beberapa masukan terkait biaya tanam menggunakan atabela, kebutuhan pupuk organik, hingga kemungkinan penggunaan teknologi drone.
Dalam kegiatan ini terlihat antusiasme petani terhadap program ini cukup tinggi. Mereka menyatakan kesiapan untuk segera melaksanakan tanam setelah seluruh kebutuhan utama terpenuhi.
Dengan terlaksananya distribusi benih dan sosialisasi ini, diharapkan implementasi PM-AAS di Kabupaten Soppeng dapat berjalan optimal serta mampu meningkatkan produktivitas padi secara signifikan, sekaligus menjadi percontohan penerapan pertanian modern di Sulawesi Selatan.
(HALID & BAS)